MEMULAI KEMBALI, BERCERITA

Sekali lagi aku mencoba menulis untukmu; huruf demi huruf, kata demi kata yang terbata kucoba rangkai untukmu. Seperti mentari yang hari ke sehari teralami, meski mendung tak sedikit memburamkan sinarnya; seperti secangkir kopi yang sering menemani senjaku, walau kadang terlalu pahit atau malah terlalu manis, namun yang tetap saja kuteguk.. sembari mengenangmu.

Begitulah sedikit tentang dirimu dalam persepsiku, Natalia. Panjang sudah jalan yang kutempuh bersama kenangan tentangmu. Luka, airmata dan kesedihan sudah menjadi sarapan pagi dan “selamat tidur”ku, namun senyum, tawa dan kebahagiaan kita dahulu selalu saja berhasil menenangkan. Hingga di detik ini aku masih berdiri di atas kakiku sendiri. Tak terapung, apalagi tenggelam. Pengalaman-pengalaman bersamamu membuatku mengerti apa itu arti hidup (setidaknya dalam definisiku), bahwa hidup itu mengalami dan mengakhiri sebelum sesuatu kita mulai kembali.

Gimana kabarmu kini, Nat? Sudah setengah tahun lebih sejak pernikahanmu, kita tak lagi saling menyapa -lebih tepatnya aku yang sudah tak bisa menghubungimu lagi. Nomor hape kamu diganti, ya? Aku mengerti, begitulah kesepakatannya. Maaf, aku bukan karna masih mengharapkanmu sampai ingin menyapa; cinta bagiku masihlah misteri. Kau adalah album foto yang entah berapa kali sudah aku membukanya, yang terus menerus menjadi kompas saat aku tersesat dalam “petualangan misteri”ku.

Aku cuma ingin mendengar ceritamu, mendengar sendiri dengan telingaku kata “aku bahagia” terlontar jujur dari bibirmu. Aku berlebihan, ya? Sekali lagi maaf, aku begini bukan karna masih sangat menginginkanmu. Cinta bagiku masihlah misteri. Aku hanya tak ingin lukisan indah dirimu berubah oleh perjalanan waktu yang menyesatkan dan tak mengizinkanmu kembali pada kebenaran hatimu. Aku tak ingin kau kian saru dari pandanganku karna keliaranmu.

Pulanglah, Nat.. pulanglah pada kesejatianmu. Cinta telah kau temukan untuk berbagi, bukan untuk terbagi; cinta telah kau dekap untuk menghangatkanmu bukan untuk menggerahkan. Berjuanglah dengan hati, demi yang kau yakini adalah cinta sejati; rasa yang akan selamanya menaungi diri, yang kadang melepaskan tanganmu namun yang sebenarnya akan segera merangkul pinggangmu; yang kadang tak sekata namun yang akan tetap sehati.

Kuharap kau baik-baik saja menjalani hidup. Biarkan aku yang terus bercerita tentangmu, tentang wangi parfum sweetseventy, dan senja berlutut. Biarkan kamu tetap di sana, di dasar kenangan yang akan selalu masuk aku ke dalamnya, menemuimu.. menemui sejarah yang mengilhamiku, dan mendengar bisikkan yang akan terus membangunkanku..

bercerita..

Iklan

mencintaimu walau tak dicinta

Posted: Oktober 31, 2011 in puisi, puisi

kulihat kau di sana

merajut kasih putih

dengan cinta yang bukan

cinta dari diriku

kuingin engkau tau

aku masih di sini

menunggu ikrar cinta kita

mengukir kembali

kutak tau kapan

kubisa melihatmu lagi

melepas rindu yang lama

telah kupendam untukmu

aku tak sanggup lagi

menahan rasa yang lama

kusimpan untukmu

mencintaimu walau tak dicinta

KERTAS PUTIH

Posted: September 26, 2011 in puisi, puisi

kau yang dulu kucinta

kini menyapa kembali

mengiris perih dalam hati

kau lama tak kujumpa

kini menikam hatiku

saat kudengar kabar

kau dengan dia

kau tak tau apa yang kurasakan

ketika kuberlutut mengharap cintamu

kau tak tau betapa hancur hatiku

menerima kertas putih itu

undangan pernikahanmu

kau yang selalu kunanti

kini takkan kunjung kembali

menyisahkan luka dan pedih

di sini..

SEBUAH SURAT UNTUK NATALIA 7

Posted: Agustus 5, 2011 in undelivered
the last letter
haii,, Nat.. lama nda dengar kabar..
hahaha.. ternyata ngana nikah juga. selamat neh. sebenarnya kita berharap ngana kase tau langsung kalu mo kaweng, jangan rupa bagini, kita tau sandiri, supaya lebe dramatis dank. mar ini so ba angin dulu baru kita tau.. 🙂:-) bakusedu katu.
di satu sisi jujur kita sedih noh, ternyata kita pe harapan pupus juga, 😦:-( mar di sisi lain, kita tetap senang deng ngana pe kebahagiaan. ehh, inga.. sekarang so jadi istri orang, so nimbole kasana-kamari neh, hehe.. musti jadi istri yang baik for suami, supaya le dia bisa jadi suami yang baik for ngana. halaaahh… kyapa kita so jadi penasehat pernikahan dank, hahaha…
btw, ba undang kw di resepsi, biar cuma mo bantu kase abis makanan, wkwkwkw.. terserah jo katu, kalu ngana suka mo undang pa kita. kalu nda juga nda apa-apa.
terima kasih karna so pernah mengisi cerita pa kita pe kenangan, qt so banya belajar dari ngana, deng banya tau arti hidup. kalo nd pernah kenal ngana, mungkin kita cuma jadi Stovan yang naif dan tanpa sejarah, hehe.. tanks ne..
SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU..
Semoga semua yang diharapkan dan dicita-citakan dalam rumah-tanggamu berhasil dalam tuntunan TUHAN YESUS..
GBU.. IMANUEL.
replay:
thanks neh. kalu mo beking nanti kita kase tau.

SPASI

Posted: Mei 16, 2011 in puisi, puisi

kau adalah penggalan kisah hidupku. menemukanmu bak menerima hadiah seindah lagu, mulut tak mampu menyanyikannya, hanya bibir benak yang dapat mengalunkan nada ilahi.

seperti angin kau berhembus, segarkan hari yang terlalu larut dalam perih. menatapmu mampu buatku sejenak lupakan segala, hingga kening dan garis wajahmu terpaut dalam pikir dan berangsur kucinta.

aku selalu ingin mencuri waktumu, menyita perhatianmu, semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk ke dalam sejarah hidupmu; seandainya aku dapat menjadi terbaik bagimu.

choose me, i’ll be the best for u..

telah bertahun sejak kuberhenti mencinta; tak adil menggenggam tangan kekasih dalam bayang-bayang cinta masa lalu. namun kau berbeda, mengubahku. menemukanmu adalah kebahagiaan bagiku.

tapi seperti kau datang, secepatnya kau berhembus pergi, tinggalkan hati yang terlanjur mencinta.

kini lagi-lagi aku butuh spasi, bukan untuk pergi atau menjauh darimu. tapi sekedar mengendalikan perasaanku. aku sadar, hidup ini cair, semesta ini bergerak, realitas berubah, seluruh simpul dari kesadaran berkembang mekar. hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa manusia mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia.

tak terkecuali aku

aku akan tetap mencintaimu. bak embun yang setiap pagi kunantikan ketibaannya, yang mungkin setiap pagipun takkan mengerti kerinduan daun yang nyaris layu dalam penantiannya.

to: n.s

detak-detik jam dinding

Posted: Februari 25, 2011 in puisi, puisi

desah nafas mengalun kaku pada sepi subuh

resah menyelimuti daku dan selembar wajah rapuh

angin jendela berbisik cinta pada remang waktu

detak-detik jam dinding teriakan haru pada cumbu

kamar remangmu jadi saksi kisah kita

hingga desah nafasku dan selembar wajah rapuhmu

mengalun kaku pada dingin dan sepi subuh

190205

KAULAH JALAN HATIKU

Posted: Februari 7, 2011 in puisi, puisi

Seperti bintang bersinar di langit biru

Susun rencana untukmu

Kutak miliki harapan dan impian

Menjadi jerit tangisan

Tapi kau terus redakan aku

Dan terus perhatikan aku

Berjalan di manapun wajahmu terlihat

Sambil kau larutkan hati yang beku ini

Kau tarik tanganku dan bawaku pulang

Kini kumiliki lagi cinta yang hilang

Kaulah jalan hatiku

Ketika semua jadi gelap

Temani dan menjadi arti

Dalam hidupku yang pengap

SEBUAH SURAT UNTUK NATALIA 6

Posted: Desember 14, 2010 in undelivered

PUTIH.. BUKAN BIRU ATAUPUN MERAHMUDA

Nat, warnamu putih ya kini? Iya, warna kesukaanmu. Foto-foto di facebook sering mengabadikan dirimu dengan busana berwarna putih, entah itu t-shirt, switer, ataupun gaun. Membuat keanggunanmu tambah mempesona. Kau sudah tak suka biru? Bagaimana dengan merahmuda? Ahh.. pasti kau juga sudah lupa kalau pernah menyukainya. Jadi kusimpulkan saja kalau warna kesukaanmu kini adalah putih.

Nat, minggu malam kemarin juga sempat kulihat kau mengenakan warna putih di satu pertemuan ibadah yang tak kusangka akan melihatmu di sana. T-shirt lengan panjang terlihat sedikit kontras dengan kulit kecoklatan, namun tetap tak pudarkan cantik wajahmu. Wajah dengan dagu tirus yang selama ini selalu tergambar di pikiranku sejak perpisahan kita dulu.

Malam itu ketika menyadari kau ada di ruangan lantai lima sebuah hotel sama denganku berada, jantung ini langsung berdebar tak karuan, cepat sekali. Hingga aku tak mengerti itu debar rindu atau ketakutanku. Dan kupilih takut untuk menemuimu walau hanya sekedar berjabat tangan kalau nantinya kita bertemu. Perlahan kuhadapkan pandanganku menatapmu yang sedang berada di sisi lain ruangan untuk sedikit mengusir rasa penasaran karna sekian lama sudah tak pernah lagi kupandangi dirimu langsung, sambil berharap kau tak tau kalau aku ada dan hendak melihatmu. Tersentak aku kemudian, wajahmu di seberang ternyata sedang menoleh ke arahku. Aku serentak memalingkan wajah dan tanpa basa-basi secepatnya aku tinggalkan ruangan itu dengan benak yang masih bertanya-tanya: apakah kau melihatku? atau ada orang lain di sekitarku yang sedang kau perhatikan bukan aku(mudah-mudahan begitu)? pertanyaan-pertanyaan itu berulang terngiang dalam hati. Jangan sampai kau melihatku dan tak menarik, karna aku tak yakin dengan penampilanku malam itu (hahahaha…).

Tapi aku tak benar-benar meninggalkan tempat itu, aku hanya pergi dari jarak sadarmu akan kehadiranku; dan aku hanya ingin merealisasikan janji yang sudah—terlanjur—tertulis di sms terakhirku untukmu. Kau tau, Nat? Setelah keluar dari tempat parkir dengan motor, aku menyinggakan diri di seberang jalan depan hotel, tepatnya di bawah pohon dengan pagar yang cukup menyembunyikanku. Duapuluh menit kumenunggu di sana, entah apa sebenarnya yang kunanti, akupun ragu. Tapi tetap saja aku tak beranjak dari sana, hingga sosokmu mulai muncul dari balik jendela kaca hotel dan mataku tak berkedip memandangimu sampai di depan gerbang. Kumulai menghidupkan mesin untuk kemudian mengendarai motorku sambil memperhatikanmu di sela-sela pagar besi sepanjang jalan seratus meter.

Rambut keriting buatan dan sandal hi-hil juga badan yang terlalu langsing—bagiku—tubuhmu terlihat semakin tinggi. Ya, semakin tinggi dan jauh, karna sebuah tembok telah menghalangi motorku, tapi siluetmu tetap berlalu semakin menjauh. Saat itu aku berbisik untukmu yang tak mungkin kau dengar: aku mencintaimu, Nat. Semoga kau bahagia dengan hidupmu.

Nat, sebenarnya aku tak ingin lagi menulis surat seperti ini sejak kau memarahiku dalam pesanmu waktu itu, karna surat-suratku sangat mengganggu katamu. Tapi aku tak bisa, Nat. Aku tak bisa meninggalkan rutinitas yang sudah lama menjadi bagian sakral dalam perjalanan hidupku. Teman yang menjadi objek untuk mengungkapkan perasaanku tentang hidup. Maaf aku tak bisa memenuhi keinginanmu. Mohon kau memakluminya.

Sejak kau meninggalkanku beberapa tahun lalu, ini adalah kali ke tiga aku melihatmu langsung, Nat. Dan ini lebih dekat dan lebih lama. Aku menyesal dulu tak benar-benar memperhatikanmu. Seandainya aku tau akan seperti ini, takkan kubiarkan sedetikpun pandanganku lepas dari indah wajahmu kala masa-masa kebersaman kita, agar ketika saat ini datang aku sudah cukup puas menatap dirimu dan tak harus susah-susah lagi menguntitmu. Tapi apakah hanya itu ukuran dari sebuah kerinduan? Manusia tak bisa tau apa yang akan terjadi dan terasakan nanti, termasuk dirimu juga aku. Jikapun aku telah mengantisipasi soal memandangimu, bagaimana dengan memeluk atau menciummu? Pasti ketika kita kehilangan orang yang dicintai, tetap saja ada hal-hal yang akan kita sesali karna merasa tak benar-benar melakukannya waktu masih bersama dahulu.

Kini yang hanya bisa kukatakan adalah seandainya dan seandainya. Aku masih belum tau sampai kapan kata itu akan terus menghiasi penyesalanku. Setiap malamku selalu saja diawali dengan kata itu: khayalan yang mengusik setiap langkah demi langkahku. Mungkin saat biru tak lagi jadi perhatianku, dan merahmuda tak berkesan lagi, saat itu baru aku bisa menghapus seandainya untuk kemudian melupakan dirimu. Masih terlalu banyak warna lain ketimbang biru dan merahmuda. Dan jika aku telah menemukan minat terhadap warna baru, aku yakin penyesalan takkan menghantuiku lagi. (Tapi entah kapan..)

Sepertimu, Nat, yang menjadikan putih sebagai warna kesukaanmu kini. Melupakan biru dan merahmuda yang pernah sangat kau inginkan. Aku ingat sepatu kets yang nyaris setiap hari kau pakai ke kampus sangking senangnya kamu akan warna merahmuda, juga tak kulupa t-shirt dan rok biru kesayanganmu. Sampai ketika hari Valentine pertama kitapun kau menghadiahkanku switer berwarna biru, karna saat itu kau tau kalau warna faforitku juga biru.

Nat, aku masih mencintaimu. Tapi memang, kebahagiaanmu adalah yang terpenting. Jika kau bahagia dengan warna putihmu, aku juga turut bahagia untukmu. Warna memang sangat penting untuk memaknai hidup, dan kau berhasil memaknainya. Asal saja jangan banjiri hidupmu dengan warna yang berlebihan, itu menggambarkan kalau hidupmu masih rapuh dan ragu.

Nat, aku harap surat-suratku takkan mengganggu seperti katamu. Aku hanya ingin mencoba bercerita tentang kisahku, tentang cinta dan kasih; tawa dan tangis yang kerap mewarnai hidup.

Salam hangat dan kasih dariku.

Nasto.

KASUR DI SUDUT KAMAR TIDURMU

Posted: November 16, 2010 in puisi

TATAPAN, BELAIAN DAN PELUKAN PENGHABISAN


Kasur biru tua di sudut kamar tidurmu

Mengembalikan lagi ingatan tentang kebersamaan kita lalu

Ketika wajah manismu berubah pahit di hadapan

Melayukan bunga yang masih berkembang di hati harapan

 

Kasur biru tua di sudut kamar tidurmu

Baru kau beli saat pertemuan empat mata terakhir itu

Ia jadi saksi bisu perih perpisahan yang kian mendekat

Seprainya bahkan basah dengan tangisan kita yang pilunya pekat

 

Kasur biru tua di sudut kamar tidurmu

Mungkin bersedih melihat tatapan,

Belaian dan pelukan serba penghabisan itu

Atau malah menangis menyaksikan cium seratus kali-mu

Tak getarkan lagi hatiku

Pasti akan lebih baik kecupan sekali nan tulus

Basahi bibir cintamu

 

Kasur biru tua di sudut kamar tidurmu

Mengembalikan lagi kenangan yang masih tinggal

Dalam puing-puing harapan

 

Kau adalah cinta dalam hatiku

Memerlukan penantian tak pasti

‘Tuk kembalikan kenyataan tentangmu

 

Kasur biru tua di sudut kamar tidurmu

Apakah masih tetap biru ia?

Atau warna lain telah berhasil gantikan seprai tua?

 

Apakah murkamu belum juga surut wahai alam?

Kenapa masih saja kami terkulai dalam kelam muram?

Muntahanmu terus-menerus membawa abu ke rumah-rumah harapan

Merubah cita-cita jadi rata dengan tanah-tanah kesedihan

Belum cukupkah Air Bah-mu menelan korban di Aceh hingga beratus ribu

Dan tahun-tahun berjalan bersama tumpahan bencana amarahmu?

Negeriku kini berduka dan menangis

Airmatanya terasa menggenang di setiap hati

Kemarin kulihat di tivi

Awan-awanmu mengirim kabut dan debu lagi

Keraskan kembali teriak rintih mereka

Getarkan kembali tubuh ketakutan mereka

Wajah-wajah beraut gentar berbedak abu

Tetes air dari mata mereka mengukir garis-garis seduh

Sayu aku kala menyaksikan sebongkah tubuh wanita

Kaku tak bernyawa

Menjemput ajal dalam serpihan murkamu

Mungkin angin adalah jawaban tanpa perkataan

Desaunya bisikkan suara yang telah tua oleh peradaban

“bumi sudah lanjut usia”

Seperti malam yang ‘kan tiba sehabis tenggelamnya surya

Ataupun hujan yang ‘kan turun setelah awan gelap meraja

Tapi tetap saja akan ada cahaya dan indah bianglala di kemudian